Seluruh Pihak Harus Bersinergi Hadapi Pandemi Covid-19

Seluruh Pihak Harus Bersinergi Hadapi Pandemi Covid-19

kukarnews.id, TENGGARONG - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) Martina Yulianti mengajak seluruh pihak untuk saling mendukung dan bersinergi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Dirinya bersama tenaga kesehatan (Nakes) bertugas di garda depan sekaligus menjadi benteng terakhir dalam penanggulangan Covid-19, karena bersama nakes di seluruh puskesmas melaksanakan kegiatan Tracing dan Testing. Selain itu juga bersama Rumah Sakit yang ada di Kukar melaksanakan kegiatan Testing dan Treatment. Sehingga dirinya yang langsung terjun dalam penanganan pandemi, menyaksikan dari mulai dari baru menjadi Kontak Erat (suspek) sampai seseorang mengalami kejadian buruk seperti menderita Covid-19 tingkat berat, yang menyebabkan kritis hingga meninggal dunia.


"Sehari - hari saya menyaksikan masyarakat yang tertular Covid-19 ini karena berbagai sebab dan kondisi. Penderitaan yang mereka alami mulai dari yang ringan sampai yang meninggal dunia," jelasnya.


Wanita yang menjabat sebagai Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD AM. Parikesit ini juga menyebutkan ada pasien yang akhirnya tertular karena memang ceroboh tidak mau melaksanakan protokol kesehatan (prokes). Namun banyak juga yang tertular karena menjadi kontak erat dari anggota keluarga atau teman yang ceroboh terhadap prokes. Karena tidak mungkin melakukan prokes didalam rumah, sehingga jika ada seorang dari anggota keluarga yang ceroboh diluar, dialah yang akan membawa virus ke keluarga tersebut. Hal inilah yang menyebabkan banyak munculnya klaster keluarga.


Dirinya juga menyaksikan bagaimana para nakes berjuang dalam penanganan pasien, hadir melayani dan memenuhi panggilan jiwanya sebagai insan kesehatan, meskipun bisa saja membuat mereka tertular, lalu sakit bahkan bisa saja meninggal dunia. Sebagai “ibu” mereka dirinya selalu memberi semangat dan berusaha hadir ditengah2 mereka meskipun tidak selalu dapat hadir secara fisik.


"Mereka juga manusia biasa, punya anak, istri, suami dan orangtua. Mereka juga memiliki kecemasan dan ketakutan yang sama dengan warga masyarakat, namun kami menyadari di pundak kami tanggung jawab itu ada," tuturnya.


Kegiatan tracing, testing, treatment sampai mengurus pemulasaran jenazah hingga pemakaman pihaknya lakukan. Mereka menyaksikan secara langsung setiap hari korban meninggal akibat Covid-19. Tangisan pilu keluarga yang ditinggalkan dengan mendadak. Bahkan beberapa teman sejawat, tenaga medis di Kabupaten dan kecamatan pun akhirnya ada yang tertular, meninggal dan ada yang mengalami dampak panjang dari Covid-19 yang hingga sekarangpun masih dirasakan. 


Saat ini pihaknya bertarung menghadapi pandemi gelombang kedua yang sebabkan oleh varian baru virus corona. Berjuang dengan segala sumberdaya yang dimiliki untuk dapat menangani lonjakan pasien Covid-19 yang diluar dari perkiraan. Penularan sangat cepat terjadi dan perburukan penyakit juga terjadi sangat cepat sehingga pasien yang meninggal sangat banyak dibanding pandemi gelombang pertama.


Dengan perjuangan yang dilakukan dirinya kecewa dengan sebagian kecil masyarakat yang dengan sengaja membuat pernyataan terkait pandemi COVID-19 dengan versi dan pemahamannya sendiri, yang kemudian mempengaruhi masyarakat luas sehingga banyak masyarakat yang masih tidak mematuhi aturan pemerintah berkaitan dengan prokes. Mereka mengabaikan terhadap resiko yang potensial menimpanya yang membawa kepiluan bagi semua. 


"Kita telah saksikan berapa banyak keluarga yang kehilangan pasangan, anak, dan orang tua. Beberapa anak menjadi yatim piatu dan sungguh berat melihat mereka tanpa pembimbing, penyangga ekonomi, dan panutan dalam hidup mereka," ungkapnya.


Hal yang lebih mengecewakan nakes, satgas dan relawan lainnya adalah sebagian dari masyarakat tidak mempercayai adanya virus ini, dan memberikan tuduhan bahwa kondisi ini diciptakan by design sebagai bagian dari konspirasi ekonomi atau politik. Bahkan berbagai tuduhan terhadap Rumah Sakit. Pihaknya tidak mempersoalkan keyakinan yang seperti itu, namun perlu dijelaskan bahwa tenaga medis adalah kalangan profesional yang terdidik secara scientific berdasarkan logika ilmiah yang bekerja dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang terukur dan Reliable. 


Dirinya juga menulis sejumlah postingan di akun pribadi miliknya yang kemudian dibagikan kembali oleh beberapa media online pada website ataupun media sosial baik nasional, regional serta lokal mendapat respon dari masyarakat. Hal ini semata - mata berangkat dari keprihatinan dan tanggung jawabnya sebagai sesama manusia, sebagai seorang perempuan, sebagai ibu, dan sebagai pimpinan dari Institusi kesehatan. 


Dalam postingan tersebut dirinya hanya ingin menyampaikan bahwa untuk menyelesaikan atau paling tidak mereduksi resiko dari pandemi ini adalah perlunya kerjasama dan tanggung jawab bersama semua pihak dalam menjalankan prokes yang telah disampaikan tiada henti pada banyak publikasi dari pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri.


"Saya tidak berniat menakut-nakuti tapi itulah kondisi yang sesungguhnya kita hadapi, apakah kita suka atau tidak, apakah kita berani atau tidak.  Saya ingin kita bersama melihat kondisi secara obyektif bahwa gelombang kedua berbeda dengan gelombang pertama," ucapnya.


Pihaknya juga berterima kasih atas niat baik dan komitmen yang tinggi dari pemerintah daerah dalam hal penanggulangan pandemi di Kukar, melalui berbagai kebijakan yang diterbitkan untuk kepentingan publik sebagai upaya untuk memutus mata rantai penularan.


Hal ini juga tidak bisa berjalan sendiri, seluruh pihak juga diminta untuk bisa saling mendukung dan bersinergi menjalankan protokol kesehatan serta tidak membuat berita hoax terkait pandemi dan penanganan yang telah dilakukan secara maksimal.(adv/pkom/kn1)