Komitmen Atasi Blankspot, Diskominfo Terus Benahi Infrastruktur Konektivitas di Kukar

Pemantapan Konektivitas Jaringan

Komitmen Atasi Blankspot, Diskominfo Terus Benahi Infrastruktur Konektivitas di Kukar

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) terus lakukan pemantapan infrastruktur konektivitas di desa-desa blank spot.


Hal ini sejalan dengan arahan Presiden RI, Joko Widodo dan Visi Misi Kukar Idaman 2021-2026 masa kepemimpinan Bupati Edi Damansyah dan Wakil Bupati Rendi Solihin dalam Program Pemantapan Konektivitas Kukar.


Sebagai bentuk komitmen memantapkan konektivitas jaringan di tiap daerah, melalui APBD 2022 Pemkab Kukar telah menganggarkan Rp 3 Miliar untuk mengentaskan blank spot di 23 Desa.


Dari data Diskominfo Kukar, daerah blank spot di Kukar meliputi 8 kecamatan dan 23 desa. Yakni Desa Bendang Raya di Kecamatan Tenggarong, Desa Sallo Cella di Kecamatan Muara Badak, Desa Muara Enggelam di Kecamatan Muara Wis, Desa Long Beleh Modang (Muara Penoon) di Kecamatan Kembang Janggut, Desa Rantau Hempang dan Desa Kupang Baru di Kecamatan Muara Kaman. Desa Batuq dan Desa Muara Aloh serta Desa Tannung Batuq Harapan di Kecamatan Muara Muntai.


Beserta lima desa di Kecamatan Kota Bangun yakni Desa Sebelimbingan, Desa Muhuran, Desa Benua Baru, Desa Wonosaririmba Ayu 7 dan Desa Sukabumi. Sembilan desa di Kecamatan Tabang, di antaranya Desa Muara Tuboq, Desa Muara Kebaq, Desa Muara Salung, Desa Muara Tiq, Desa Muara Belinau, Desa Buluk sen, Desa Umaq Dian, Desa Umaq Tukung, dan Desa Long Lalang.


"Khusus tahun ini kami prioritaskan 13 Desa, dan pasti akan bertambah lagi kedepannya. Karena seumpamanya kita anggarkan 10 desa ternyata yang tahun ini penanganannya sisa 9 desa," ujar Kepala Bidang Teknologi dan Informatika (TIK) Diskominfo Kukar, Eri Haryono saat ditemui Kamis (10/3/2022).


Eri menyebut sisa 9 desa yang dijadikan prioritas tersebut masih belum memiliki jaringan sama sekali. Karena itu, 9 desa menjadi prioritaskan tahun ini untuk dibangun tower. Namun Eri belum dapat memastikan kapan selesainya.


"Informasi dan data-data masih kami kumpulkan dan koordinasi. Kami maunya sudah ada persetujuan dari operator seluler. Karena jangan sampai itu sudah dibangun, operatornya tidak mau pasang disitu. Jangan sampai tidak termanfaatkan," tegas Eri.


Pemasangan repeater menjadi prioritas dari anggaran Rp 3 Miliar. Repeater dipasang agar dapat menjadi penguat sinyal, dan akan dipasang di tower masing-masing desa blank spot dengan memalan dana Rp 300 Juta per titiknya.


"Kami bisa beralih ke desa-desa lain yang lemah, tapi tergantung kebijakan pimpinan. Karena kami harus berjalan dengan perencanaan yang ada. Dan  apabila tahun depan masih ada sisa anggaran APBD untuk blank spot. Akan diarahkan untuk beberapa daerah yang lemah jaringan. Kami melaksanakan ini dengan tetap mengikuti arahan dari atasan," tutupnya. (adv/dkom/kn1/rhi)