Kolaborasi DKP Kukar dengan TJSP Menyusun Program Pengentasan Kemiskinan

Kolaborasi DKP Kukar dengan TJSP Menyusun Program Pengentasan Kemiskinan

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kutai Kartanegara (Kukar) berkolaborasi dengan pihak Forum Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP) dalam hal penanggulangan kemiskinan di tahun 2023 melalui program Pondok Pangan Etam (P2E). 


“Program P2E  untuk mendukung pemberdayaan masyarakat memenuhi kebutuhan pangan dari hasil pekarangan sendiri sebagai sumber pangan secara berkelanjutan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan dan pendapatan,” kata Plt Kepala DKP Kukar, Wiyono usai rapat pembahasan di Ruang Batara Kantor Bappeda, Tenggarong, Selasa (8/11/2022). 


Wiyono menjelaskan, program ini menjadi program prioritas adapun wilayah yang ditetapkan sebagai penerapan program P2E ini yakni, Desa Batuah, Desa Tani Harapan, Desa Muara Sembilang, Desa  Sungai Merdeka, Desa Tani Bakti, Desa Loa Ipuh Darat, Desa Rapak Lambur, Desa Teratak, Desa Benua Puhun, dan Desa Rantau Hempang. 


“Melalui kegiatan pondok pangan etam ini akan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap masyarakat, khususnya kelompok penerima manfaat dalam pengembangan pekarangan," katanya. 


Wiyono menilai program ini sebagai alternatif untuk penyedia sumber pangan dan gizi keluarga sehingga terlaksana rumah tangga tahan pangan wujudkan hidup sehat, aktif dan produktif di Kukar.  P2E juga sebagai pemebrdayaan kelompok masyarakat untuk budidaya tanaman sayuran, umbi-umbian, tanaman obat keluarga, peternakan (unggas) dan perikanan untuk skala rumah tangga.


“Kelompok sasaran penerima manfaat yakni Dasa Wisma, Anggota PKK, Keluarga 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) dan Rumah Tangga/Masyarakat Miskin,” tambahnya. 


Adapun bantuan yang diterima oleh penerima manfaat P2E berupa barang yang dibutuhkan oleh kelompok untuk mendukung pemanfaatan pekarangan, jika dinilai dengan uang setara dengan Rp 60 juta. 


“Pengadaan sarana pembibitan Rp25 juta, bangunan rumah bibit satu paket Rp15 juta (SSH), penyediaan tanah dan pupuk 1 paket Rp10 Juta demplot satu paket Rp20 juta. Kemudian pekarangan rumah satu paket Rp10 juta dan kegiatan pasca penen satu paket Rp 5 juta dengan jumlah Rp 60 juta,” pungkasnya. (adv/dkom/kn1/rhi)