GARIS TANGAN, Autobiografi Edi Damansyah

GARIS TANGAN, Autobiografi Edi Damansyah

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah meluncurkan buku autobiografi dirinya yang berjudul "Garis Tangan". Peluncuran buku ini dilaksanakan pada kegiatan acara ngapeh hambat yang berlangsung di halaman Kantor Radio Pemerintah Kabupaten (RPK) Kukar. Rabu (2/3/2022).


Peluncuran buku ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun Edi Damansyah yang ke 57 tahun. Buku ini berisikan perjalanan hidup mulai dari seorang honorer hingga akhirnya jadi Bupati saat ini.


Dalam peluncuran buku ini juga dilakukan bedah buku dengan menghadirkan Felanans Mustari sebagai editor buku, Syafrudin Pernyata tokoh literasi sekaligus Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kaltim, serta Viola salah satu tokoh zelenial dari Gerakan Literasi Kutai (GLK) Kukar.


Edi Damansyah menjelaskan bahwa data penulisan ini berasal dari catatanya. Dirinya memang sudah lama menyempatkan menulis ini, namun sempat ragu dan akhirnya mendapat dukungan dari orang yang di sekelilingnya dengan harapan bisa menjadi salah satu sumber refernsi dan literasi.


"Kawan - kawan yang mendengar kisah yang diceritakan, ini tulis aja, supaya menjadi salah satu referensi dan literasi di Kutai Kartanegara," ungkapnya.


Dirinya juga menyebutkan banyak tokoh yang berperan penting dalam perjalanan hidupnya mulai dari kampung halaman di Desa Ngayau, Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang dulunya menjadi satu daerah yakni Kabupaten Kutai, hingga mengantarkannya  kini menjadi Bupati Kukar.


"Mulai bekerja sebagai honorer pemerintahan selama enam tahun hingga akhirnya lolos PNS. Sempat empat kali daftar tidak lolos jadi PNS, betapa susahnya jadi pegawai saat itu," jelasnya.


Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kaltim, Syafruddin Pernyata, dirinya menyebutkan bahwa hampir dua jam dirinya menghabiskan membaca buku sebanyak 10 bab ini. "Tidak ada bagian dalam buku ini yang tidak penting, semua penting tetapi Saya ndak menyangka, anak yang suka bolos sekolah ternyata bisa jadi Bupati. Sampai tiga kali pindah-pindah sekolah. Tetapi secara gamblang dibuku ini dituliskan alasan beliau lebih suka bekerja dibanding sekolah karena itu ciri khas anak pedalaman," ucapnya.


Ciri khas anak pedalaman yang dimaksudkan  adalah keinginan Edi Damansyah untuk membantu orang tua menghasilkan uang. Prinsip hidup yang patut diteladani dalam artian berbakti kepada orang tua. "Meskipun dimasa sekarang prinsip sudah tidak relevan ya. Idealnya, berbakti kepada orang tua tetap dilakukan, tetapi sekolah juga harus jalan," harapnya.


Dirinya menambahkan kekagumannya pada sosok Edi Damansyah adalah pandai memanfaatkan waktu dan melihat peluang. "Saat tugas sebagai honorer selesai. Bukan malah ngapeh dengan kawanan kantor atau bejalan. Tapi menyusun arsip sambil dibaca semua hal dalam dokumen itu. Dan ini membuat Pak Bupati jadi banyak tahu karena banyak membaca. Lalu, dengan bekal banyak membaca, muncul lah rekomendasi pengangkatan honorer ini menjadi PNS," pungkasnya. (adv/pkom/kn1/rhi)